Oleh: east islands | 2010/09/07

PENYAMARAN

Penyamaran

Dari kaca busway yang sedang meluncur menuju arah Harmoni masih jelas terlihat bahwa hujan masih saja belum reda. Sesak penumpang yang berdiri di dalam busway tetap tidak melemahkan kedua lelaki yang selalu bercengkerama dan penuh sukacita tanpa terlihat raut kesusahan di wajah mereka, meski secara normal mereka bisa digolongkan sebagai orang-orang bodoh bagi dunia. Cukup buat mereka merenungkan I Korintus 1:27 untuk tetap tersenyum pada setiap orang yang memandang rendah dan menghina mereka.

Sudah tiga hari sejak kamis, jumat dan senin ini mereka bolak-balik dari Kapuk ke Wisma BNI 46. Sepertinya mereka disibukkan oleh suatu urusan yang kelihatan begitu penting buat mereka.Di dalam busway yang tetap melaju tanpa halangan tiba-tiba terdengar tawaan lirih…”hahaa….penyamaran” baru lelaki yang perutnya lumayan besar dan perawakan gempal berkata kepada temannya. Lelaki gempal itu bernama Prop Bring.

“Penyamaran?” sahut Prop Voerbach sedikit aneh sembari menyerngitkan keningnya. Prop Bring hanya tersenyum sesaat , namun kemudian dia berkata :”BAPA kita RAJA segala RAJA, lahir di kandang domba dan DIA menyamar”. Sesaat kemudian mereka berdua tertawa sambil menahan bahak-bahaknya karena sesaknya penumpang. Mereka tertawa karena mereka memahami sisi lain dari kelahrian BAPA mereka YESUS KRISTUS. Dan mereka menghubungkan penyamaran ini dengan apa yang mereka lakukan beberapa hari ini.

Memang mereka menyamar selama tiga hari ini sebagai orang-orang konsultan yang besar dan terkenal. Pakaian necis, sisiran rapi, dengan tutur bahasa yang penuh attitude. Minum di suatu restoran yang bisa dikatakan bergengsi sambil membicarakan bisnis pertambangan batubara dengan kepercayaan diri yang tinggi. Wah pokoknya jika dilihat maka akan muncul di benak kita:”Mereka ini adalah eksekutif muda” istilah masa kini ya pengusaha mudalah.

Taklama kemudian terdengar bunyi :”Pemberhentian selanjutnya halte Jembatan Gantung”……mereka pun senyum karena mereka kembali harus mengganti penyamaran mereka sebagai orang-orang yang bodoh bagi dunia namun penuh kasih. Perlahan mereka melangkah menuju pangkalan ojek. Ojek melaju dengan senyuman sang pengemudinya karena mendapatkan rejeki atas dua orang penumpang yang bersemangat dan muda. Mungkin di benak pak ojek “wah lumayan dapat rejeki lagi untuk makan istri dan anak”.

“Disini pak” sahut Prop Voerbach dan sesat turun dari ojek sembari mengambil uang Rp.5.000 dua lembar untuk membayar ongkos ojek mereka. Kemudian melangkah memasuki gerbang rumah. Sesaat setelah masuk ke gerbang rumah Prop Voerbach tersenyum melihat istri tercinta mengajar murid-murid Prop Bring.

Setelah melepas lelah dan menahan rindu pada anak-anak kelas 3 SMP (Josua,Andy, Levi,David,Santo,Julian,Novita, Ester,Syntia, dan Yuni) karena mereka telah pulang dan menunggu penggantian jadwal keesokan harinya. Akhirnya Prop Voerbach mengajar kelas 1 SMA di ruangan samping rumahnya. Tak terasa 1,5 jam pun berlalu.

Selesai melakukan tugas Prop Voerbach menikmati kopi bersama saudaranya Prop Bring di ruang tengah sambil menembaki seorang lelaki lucu yang baru ditahirkan malam kemarin dengan Firman-Firman yang tajam.

Nah memang BAPA ROH KUDUS begitu sayang kepada kedua anaknya yang bandel ini (PV dan PB). Saking sayangnya mereka dihadiahi Firman untuk lebih mengerti akan arti penyamaran itu.

Inilah FirmanNYA I Korintus 9:20-22
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum TUHAN, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.

Akhirnya Prop Voerbach dan Prop Bring tertawa terbahak-bahak sambil berkata “BAIK BUANGAAATTTTTT BAPA ROH KUDUS”…….ternyata dalam memberi jawab memang kita harus mengatakan “ya jika ya, dan tidak jika tidak (Matius 5:37) tetapi dalam bergerak memang perlu penyamaran……sekali lagi BAPA juga menyamar dengan lahir di kandang domba….

Segala Puji dan Hormat bagi YESUS KRISTUS. Amin

Oleh: east islands | 2010/09/02

YESUS KRISTUS siapakah DIA bagimu?

Sukar terkadang untuk memahami hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh mata. Manusia memang cenderung lebih menyukai apa yang dilihat oleh mata dibandingkan dengan yang tidak terlihat oleh mata. Satu hal yang masih diyakini sebagian besar manusia bahwa keberadaan TUHAN itu benar adanya. Mereka yang tidak pernah percaya bahwa TUHAN itu ada pada dasarnya mereka itu adalah manusia yang sangat bodoh dan memalukan. Bagaimana mungkin mereka tidak mengakui akan adanya TUHAN sedangkan hal itu dilihat dan dirasakan oleh mereka setiap hari. Sepanjang hari dan malam karya nyata itu dapat dilihat betapa besar dan agungnya Pencipta segala sesuatu itu (Mazmur 19). Adakah ilmu pengetahuan dapat menjelaskan proses terbentuknya dan siapa yang dapat membentuk cakrawala yang begitu indah dan menakjubkan ini.

Saat ini gereja-gereja dipenuhi manusia yang setiap minggunya mencari dan mendengar siapakah DIA yang bernama YESUS itu. Terkadang sungguh memalukan sikap gereja yang malah membuat orang-orang itu bukannya menemukan apa yang mereka cari tetapi mereka malah digiring menuju jurang (Mat 23:13). Sungguh menyedihkan !! Tragis !! Mereka semua disenangkan dengan cerita-cerita lucu yang membuat perut seakan-akan dikocok dengan “mesin juice”, ada juga yang menawarkan berkat dan kesembuhan ilahi sampai-sampai diadakan setiap minggu KKR seperti arisan saja. Semua berlatih untuk mempersiapkan diri sebelum menuju tempat yang mengerikan itu (Luk. 13:28) . Pembicara diambil dari luar negeri dengan iklan yang dipoles begitu rupa untuk menarik orang, seolah-olah produk luar lebih ‘top cer”. Gereja-gereja saling berlomba menjaring orang-orang hanya untuk memuaskan keinginan dan hasrat pendirinya. Semua menawarkan program-program yang menjanjikan dan berusaha membenarkan diri. Terkadang saling sikut dan saling tuding pun terjadi..istilah “mencuri domba” menjadi senjata yang ampuh, demikian juga dengan “pencuri domba” membalas berkata bahwa mereka merawat domba-domba itu sedangkan pihak lain tidak. Koq jadi aneh domba-domba itu pemiliknya siapa ya? Menjadi pertanyaan kembali sewaktu Yesus bertanya kepada Petrus Yoh 21:15-17, atau mungkin perintah Kudus ini menjadi berubah saat ini menjadi ambillah uang-uang mereka dan jadilah kaya..

Tragis sungguh tragis…seperti orang yang mati ditabrak kereta api, orang-orang menjadi buta dan tidak dapat mendengar akan bahaya itu.
Saatnya untuk bangkit mengenal DIA yang MAHA KUDUS pribadi lepas pribadi. Pengenalan akan YESUS KRISTUS inilah yang menjadi kesukaan BAPA ROH KUDUS (Hos 6:6). Sering orang terjebak di dalam pengenalan akan DIA sehingga batas pengenalan itu menjadi sangat terbatasi. Ada yang mengenal DIA ketika mereka diberkati, disembuhkan, melihat mukjizat. Ada juga yang mengenal DIA dari gambar-gambar dan patung-patung. Pengenalan ini menjadi begitu amat penting bagi kita yang ber-TUHAN kan YESUS KRISTUS (Mat. 7:23). Kembalilah untuk menguji hati sudahkah kita mengenal DIA? (Ams 21:2). Atau barangkali kita mengenal DIA sebagai “satpam”, “sinterklas”, sehingga kita hanya mengenal ketika DIA memberi ? Padahal matahari yang menyinari kita dan hujan yang membasahi bumi ini diberikan juga bagi orang benar dan orang fasik. Jika pengenalan kita akan YESUS KRISTUS hanya sebatas apa yang diberi bukankah kita tidak terlalu jauh berbeda dengan mereka yang tidak mengenal DIA?

Akhir kata marilah kita mengenal DIA yaitu YESUS KRISTUS sebagai pribadi.

Mat 7:21-23 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

Hosea 6:3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.

Nahum 1:7 TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya

Semoga II Petrus 1:2 Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan BAPA dan akan Yesus, Tuhan kita

Oleh: east islands | 2010/08/30

Salam Sejahtera

Salam sejahtera buat saudara-saudari semua..senang bisa mengunjungi blog kami. Silahkan jelajahi blog ini dan kiranya hidup anda terberkati….Halleluya Amin !

Oleh: east islands | 2010/08/10

INGWER LUDWIG NOMMENSEN

Ingwer Ludwig Nommensen dilahirkan 6 Pebruari 1834 di Nortstrand, sebuah pulau kecil di Jerman Utara. Ia menggembala domba pada musim panas untuk membantu orang tuanya yang tunakarya karena sakit-sakitan. Ia juga sering kelaparan dan mencari sisa-sisa makanan di rumah orang-orang kaya bersama teman-temannya. Waktu luangnya digunakan untuk bekerja sebagai buruh tani atau membantu tukang yang memperbaiki atap rumah. Ia seorang yang ulet dan gigih, tidak kenal menyerah.
Pada usia 12 tahun, saat sedang bermain kejar-kejaran dengan temannya, ia tertabrak kereta kuda hingga kakinya patah dan dia harus berbaring di tempat tidur selama berbulan-bulan. Sekalipun sedih, ia bersyukur karena teman-teman sering menengok dan menceritakan pelajaran dan cerita-cerita yang mereka dengar dari guru. Cerita tentang pengalaman para pendeta yang pergi memberitakan Injil sangat mengesankan baginya. Setelah dirawat beberapa waktu lukanya makin parah sehingga dia tidak dapat berjalan sama sekali. Dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya. Nommensen yang sudah ada kerinduan untuk menjadi pemberita Injil, menjadi bingung. Dia membaca firman Tuhan dalam Yohanes 16:23, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku”. Firman ini membuat Nommensen bertanya kepada ibunya, “Apakah perkataan Yesus masih berlaku?” Mendengar jawaban ibunya, ia minta didoakan untuk kesembuhannya dan berjanji akan pergi memberitakan Injil kepada orang yang belum mengenal Kristus; apabila sudah sembuh kelak. Tidak lama kemudian ia memperoleh kesembuhan total. Dan pada umurnya 15 tahun ia meneguhkan iman dengan menerima sidi.

Setelah dapat berjalan kembali dengan baik, pada tahun 1853 dengan berbekal sepatu dan pakaian seadanya, ia pamitan dengan orangtua dan sanak kerabatnya untuk memulai tugas penginjilan. Awalnya ia mau menginjil di luar daerah, namun dia gagal menjadi kelasi di pelabuhan Wick. Beberapa minggu kemudian di Boldixum, ia bertemu dengan mantan gurunya, Hainsen, yang akhirnya mengangkat Nommensen menjadi pembantunya setelah beberapa waktu menjadi koster. Ia di tempatkan di Tonderm dan di sinilah ia bertemu dengan Pendeta Hausted yang mengajarnya bagaimana menjadi seorang pemberita Kabar Baik. Setelah memiliki pengetahuan yang cukup tentang sulitnya medan misi dan tantangan-tantangan sebagai penginjil, ia akhirnya melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein (RMG). Pada tahun 1857, Nommensen belajar di sekolah pendeta di Barmen. Disamping kuliah, ia juga menjadi tukang sepatu, tukang kebun, tukang sapu dan juru tulis sekolah itu.Ia berhasil lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1861 lalu berangkat ke Belanda.

Sehari sebelum Natal pada tahun 1861, dengan kapal Pertimax, dia menuju Sumatera. Bulan Mei 1862, ia tiba di Padang (setelah 142 hari mengalami penderitaan di atas kapal). Di sinilah ia mengucapkan doa penyerahannya yang agung, “Seluruh hidup, tenaga, badan dan jiwa dan segala rahmat yang KAU limpahkan kepadaku, kuserahkan kembali kepada-Mu. Aku tidak dapat membalas kasih-Mu yang menyelamatkanku. Semua yang ada padaku, dari pada-Mu jua kuterima karena itu semuanya bukanlah kepunyaanku.” dan mengawali pelayanannya di Sumatera. Kemudian dia melanjutkan perjalanan ke Sibolga dan memulai pendekatan kepada orang Batak di daerah Barus. Dengan rajin, dalam waktu yang singkat ia dapat menguasai bahasa Batak dan Melayu, mempelajari adat istiadat setempat dan mengadakan pendekatan terutama kepada raja. Setelah merasa mengetahui banyak hal tentang penduduk setempat, dia mulai mengunjungi desa-desa yang terpencil yang penduduknya masih kanibal. Sekalipun ia sangat ramah namun ia mendapat banyak kesulitan, mereka juga mencurigainya sebagai
mata-mata Belanda yang hendak menaklukkan bangsa Batak yang merdeka itu.
Nommensen tidak takut walaupun mereka berusaha mengusirnya. Sembari berkotbah ia mengobati yang sakit dan menghibur mereka dengan bermain Harmonika. Ia mendapat sambutan ramah dari penguasa Desa Rambe. Karena dia tidak diizinkan oleh Residen Belanda untuk mendirikan rumah di situ, ia berangkat ke Sigompulon dan menemui Pendeta Heine dan Van Asselt.

Sekalipun banyak tantangan, semangatnya tidak surut. Selain berkotbah, mengunjungi dan mengobati orang sakit; dia mulai bergerak di bidang pelayanan pendidikan. Di Parau Sorat, Nommensen mendapat kesulitan makanan. Sering kali ia hanya makan bubur dan susu kerbau di pagi hari dan nasi campur pisang goreng di sore hari. Pemerintah juga melarangnya masuk pedalaman. Oleh sebab itu ia mengubah strategi pelayanan dengan memulai dari kota, Tapanuli. Pada awal tahun 1864, ia pindah ke Silindung dan mengalami suatu peristiwa ajaib. Ia mengahadiri acara pesta nenek moyang Siatas Barita, biasanya masyarakat menyembelih seekor kerbau dan seorang manusia. Karena penyembah berhala tidak menyukainya, maka Sibaso (pengantar roh-roh halus) yang sedang kerasukan roh jahat menyuruh khalayak membunuhnya. Ia tidak takut, malah tampil ke depan seraya berkata,”Roh yang berbicara melalui Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan. Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah seorang keturunannya!” Setelah Nommensen berkata demikian, Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak lagi menggangunya.

Tanggal 29 Mei 1864, dia mendirikan rumah di Sait ni Huta Tarutung dan memulai misi pelayanan injil di Tapanuli Utara dan mendirikan jemaat yang pertama di Huta Dame. Ia merancang perkampungan itu menjadi perkampungan Kristen. Dia menerapkan prinsip-prinsip hidup yang khas, prinsip kerja yang teratur dan padat dan mengajarkan jemaat agar setiap pukul 06.00 berdoa sambil membaca firman Tuhan untuk bekal sepanjang hari. Pukul 09.00, 12.00, 15.00 dan 18.00 loceng selalu dibunyikan untuk mengingatkan orang Kristen untuk menghadap Tuhan di manapun mereka berada. Pukul 19.00 – 21.00 orang-orang dewasa dan para pelajar berdoa. Dalam komunitas Huta Dame ibadah diatur secara ketat setiap hari. Di kemudian hari ia berhasil menyusun tata gereja bagi jemaat. Ia memperhatikan nasib orang miskin. Bersama jemaat dia mengumpulkan dana dan membeli sawah untuk digarap, memintakan Residen Belanda agar menjamin keamanan masyarakat dan meminta tentara untuk tidak membakar rumah-rumah rakyat.

Pada tahun 1873, Nommensen mendirikan gedung gereja, sekolah dan rumah pribadinya di Pearaja yang kemudian menjadi pusat Huria Kristen Batak Protestan. Tuhan memberkati pelayanannya sehingga injil semakin meluas. Ia juga menerbitkan cerita-cerita Batak, menterjemah Perjanjian Baru ke dalam bahasa Toba. Pada tahun 1891, dia pindah ke Kampung Sigumpar sampai akhir hidupnya. Ia berusaha memperbaiki system pertanian, peternakan dan meminjamkan modal usaha bagi jemaat yang kurang mampu. Disamping menebus para hamba dari tuannya, ia mendirikan sekolah-sekolah dan balai –balai pengobatan. Untuk melanjutkan pelayananya, Nommensen melatih para orang Batak . Ia mendirikan sekolah penginjil dan sekolah pendidikan guru. Kerana jasa-jasanya ia diangkat menjadi Ephorus oleh pimpinan RMG pada tahun 1881 dan pada 6 Pebruari 1904, pada ulang tahunnya yang ke 70, Universitas Bonn menganugerahi gelar Doktor Honoris Causa kepadanya. Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, Rasul Orang Batak, meninggal dunia di Sigumpar setelah melayani selama 57 tahun. Namanya diabadikan sebagai nama Universitas HKBP Medan dan Permatang Siantar. Dari hasil pelayanannya lahirlah beberapa gereja besar seperti: HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP, GKPA yang saat ini tersebar di Indonesia dan Singapura.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.